Fun Fact Hari Ini

Memuat fakta menarik...

Cari Fun Fact Menarik Lainnya

Cerpen Taaruf Dalam Surat

Taaruf Dalam Surat

Taaruf Dalam Surat

Oleh: Rino Jefriansyah, S. S.

Tanggal 23 Desember 2022. Nampak seorang gadis sedang duduk penuh resah di kursi belajarnya. Di atas meja belajarnya, terdapat banyak robekan kertas. Sepertinya dia sedang menulis sesuatu tapi berkali-kali salah. Ia menulis lagi, merobek lagi, dan akhirnya berhasil menyampaikan sesuatu yang sedari tadi tertahan di hatinya.

"Kamu yang di sana. Apa merindukanku? Di tangan ini sudah tergenggam penuh dengan sekuntum rindumu. Air mata ini tak mampu aku bendung, kerap kali aku melihatmu bersamanya. Aku sadar, kamu memiliki seseorang yang engkau cintai. Tapi hati ini entah kenapa sudah tersengat oleh senyummu."

Ia tak mampu melanjutkan lagi. Wajahnya begitu merah, saking tak tahan menahan malu perasaannya. Tapi serentak nyanyian jangkrik memberikan semangat untuknya. Bak simfoni yang menyejukan hati, menggerakan tangan kecilnya untuk melanjutkan isi hatinya.

"Aku tahu kamu belum memiliki perasaan kepadaku. Tapi saat mata kita bertemu, nampak aura lain yang tersembunyi. Seolah ada pesan rahasia yang harus aku cari tahu. Tapi apa. Sampai saat ini aku masih belum tahu apa."

Ia menghela napas, sepertinya ini energi terbesar pertama yang ia keluarkan. Keringat dingin begitu mulus membasahi tubuhnya. Namun, kertas dan pulpen yang menjadi pelampiasan perasaannya begitu hangat seolah melindunginya bagai laskar cinta.

"Aku paham. Aku belum mengenalmu lebih jauh. Tapi pertemuan singkat kita kala itu seolah kita sudah saling mengenal. Mungkin bukan lagi sekadar teman, sahabat, bahkan pacar sekalipun. Tapi.. ah sudahlah. Biarkan Tuhan yang mengerti. Meskipun diri ini ingin kamu juga harus tahu. Salam--oleh N."

Ia melipat kertas itu, menyimpannya dalam amplop putih tak beralamat. Tak disadarinya ia menaruh surat itu di dekat jendela kamarnya yang terbuka. Tanpa melihat sesuatu yang terjadi, ia mematikan lampu kamarnya dan langsung beranjak ke tempat tidurnya berharap bunga tidur memberikan harapan.

Surat itu terbang dibawa angin malam. Melewati rumah-rumah perumahan sederhana dan melintasi sebuah taman kota di tengah bulan purnama yang mulai redup. Perlahan jatuh dan tidak sengaja menyapa seorang pemuda yang sedari tadi diam dengan wajah kusut.

Dilihatnya surat yang baginya tak bertuan ini. Diciumnya aroma harum amplop tersebut dan sepertinya dari seorang gadis. Dibukanya surat yang tidak tersegel, kata demi kata ia baca. Tak terasa dia tenggelam dalam isi surat tersebut yang tidak ia ketahui dari siapa. Namun seolah-olah ia mengerti. menutupnya lalu tanpa disuruh kakinya berjalan sendiri.

Pemuda itu berjalan menembus gelapnya malam, merobos angin yang dingin. Tanpa ragu ia ikuti langkah kakinya. Dia percaya, bahwa sepasang kakinya akan mendarat di sebuah tempat masa depannya.

Jam demi jam malam meninggalkannya. Namun pemuda itu terus berjalan mencari tujuan. Hingga akhirnya kakinya berhasil menyapa di sebuah karpet welcome di sebuah rumah sederhana. Diketuknya pintu itu, dan terdengar langkah kaki cepat yang membuka daun pintu yang terkunci. Bunyi engsel pintu membuka batasan dua orang yang tak diduga.

"Putra?" tanya gadis itu dengan kagetnya.

"Na.. na.. jwa?" tanya balik pemuda itu.

Mereka sama-sama terdiam dibalik kagetnya. Tiada daya untuk bicara. Sepasang mata mereka pun tak kuasa saling pandang. Hanya tatapan ke lantai menjadikan malu di antara mereka.

"Ken.. ken.. kenapa kamu bisa ke sini? Tahu dari mana rumahku?" ujar Najwa yang mencoba obrolan yang tak disengaja ini.

"Aku tidak tahu. Tiba-tiba kakiku berjalan sendiri," jawab Putra dengan gemetar.

Najwa tak sengaja melihat tangan Putra yang sedang memegang sesuatu.

"Apa itu?" tanya Najwa ingin tahu.

"Ini surat. Aku tidak tahu punya siapa ini. Tiba-tiba saja surat ini jatuh di kepalaku dan aku membacanya. Setelah itu ya begini," jawab Putra semakin gemetar.

Najwa mengambil surat dari genggaman Putra. Ia begitu kaget, ternyata surat yang malam ini dia buat berhasil terbang di pelukan Putra.

"I.. i.. inikan.. um.. um."

"Sepertinya aku tahu sekarang," ujar Putra tiba-tiba.

"Apa maksudmu?" kata Najwa kaget.

"Baiklah aku tidak suka banyak cerita. To the point saja kan," ucap Putra dengan wajah penuh senyum. Nampaknya Putra mulai memahami dan memberanikan diri.

"Apa?" tanya Najwa tapi kali ini wajah merah.

"Surat itu kamu yang buat bukan," tanyanya tapi penuh kenyakinan, "katakan saja sejujurnya. Lebih baik jujur bukan daripada kamu menyimpannya. Mungkin bisa saja kamu membantah. Tapi waktu akan menjawab."

"I.. i.. iya. Aku mengakuinya. Itu karena aku sudah tidak tahan dengan perasaanku. Tapi jujur, aku tidak tahu jika surat itu terbang ke tempatmu."

"Tidak apa-apa. Ya sudah dulu ya. Besok aku akan datang lagi tapi tidak sendiri."

"Maksud kamu? Kamu akan datang bersama pacarmu?"

"Tidak. Aku akan datang sama keluargaku. Aku harap kamu mengerti itu."

"Tapi? Kita kan.."

"Sudah lebih baik begini. Aku sudah bosan pacaran."

"Maksud? Bisa saja kan kamu dan keluargamu datang ke rumah pacarmu untuk membicarakan apa yang akan kamu lakukan besok."

"Aku tidak akan melakukan itu kepadanya. Untuk apa aku melakukan hal yang menyakitkan ini di depan dia. Orang yang memang awalnya aku sayang. Orang yang aku cintai melebihi aku mencintai diriku sendiri. Tapi sebuah pengkhianatan telah merobek kesetiaan diri ini. Ia diam-diam telah berselingkuh dan hamil di luar nikah. Keluarganya terjebak oleh harta dan untuk apa lagi aku pertahankan. Walau aku tahu mungkin dia tidak mau. Tapi apa. Nasi telah menjadi bubur. Mustahil kembali menjadi beras atau nasi lagi. Nasi saja masih bisa dikeringkan."

"Tapi apa secepat ini? Kita belum saling mengenal. Aku takut malah tanpa ada perkenalan dan hanya saling bertemu di rental game saja sudah membuat kita begini."

"Taaruf bukan. Untuk apa harus dipersoalkan. Jika Allah saja mengizinkan hamba-Nya untuk melakukan itu. Aku tahu kamu perempuan yang baik. Yang bisa memahami calon suami dan anak-anaknya kelak."

Najwa menangis dan membuatnya tenggelam dalam lautan bahagianya. Seseorang yang awalnya hanya harapannya belaka, datang membawa masa depan. Melebihi dari sebatas sahabat maupun pacar. Ingin memeluk Putra tapi dia menahannya. Karena dia tahu, selepas esok nanti, bukan sekadar pelukan saja yang akan dilakukan ataupun didapatnya. Tapi lebih dari segalanya.


Sudah lima tahun berlalu setelah peristiwa indah itu. Nampak seorang ibu muda duduk di kursi kamarnya, sambil menggendong anaknya yang rupanya tertidur dalam pelukan bunda. Dia tersenyum kepada anaknya, lalu matanya tertuju sebuah surat yang masih terbungkus amplopp putih di atas meja. Dia tahu. Surat itu telah mengunah masa depannya sekarang. Andaikan saat itu ia tidak melakukan hal tersebut mungkin akan lain ceritanya.

Surat yang membawanya ke masa depan. Surat yang membawanya dalam kebahagiaan. Surat yang membawanya ke dalam janji suci abadi dengan orang yang dia pilih. Menjadikan sebagai mahar yang tak pernah dia lupakan.

"Assalamualaikum. Ayah pulang!" Sapa lembut di luar rumahnya telah membangunkan Najwa dari kenangan indahnya. "Waalaikumusalam. Bentar sayang," jawabnya dengan pelan dan senyum agar anaknya tidak terbangun. Dibaringkan anaknya di atas tempat tidur, lalu ia bergegas membuka pintu rumah. Disambutnya sang pemuda tampan dibalik pintu.

"Sayang sudah pulang? Cepat sekali?" tanyanya Najwa penuh bahagia.

"Iya. Hari ini alhamdulillah boss aku memberikan jabatan baru. Aku diminta menjadi manager di kantornya karena manager yang lama dipecat. Jadi untuk merayakannya, aku pulang mau ngajak yayang dan Alomar bertamasya."

"Betulkah sayang? Yayang senang sekali. Apalagi Alomar yang dari kemarin ingin sekali bertamasya."

"Betul yayangku... muah. Yuk siap-siap."

"Ok sayang, yayang bangunkan Alomar dulu. Lagi tidur dipelukan yayang tadi."

"Wah. Aku juga mau bobok dipelukan yayang."

"Ish ayah kan udah gede. Aku aja," kata anaknya tiba-tiba.

Akhirnya mereka tertawa bahagia dan menikmati hidup dalam kebahagiaan setelah berkeluarga. Meski awalnya Najwa ragu, tapi cinta tulus Putra mampu menghancurkan tembok pesemis Najwa. Baginya, berpacaran setelah menikah itu sangat luar biasa!

Baca Selengkapnya

Cerpen Tutorial Menghias Pohon Natal di Game BC

Cerpen Natal BC

Cerpen ini saya buat dari MOTD yang ada di game BC dalam rangka natal. Ini saya buat supaya pembaca lain atau pemain yang melakukan event mendapat hiburan dan tutorial. Selamat membaca!


"Bro, aku melihat bunga mawar merah, bintang, dan lampu natal di toko Pak Samsul. Aku pikir kita bisa beli buat pohon natal kita," kata Michael bersemangat.

"Aku pikir kita tidak perlu membelinya sob. Kita bisa bikin itu dengan mudah," jawab Harry tersenyum.

"Wah bagaimana caranya? Itukan sulit sekali?" tanya Michael sambil garuk-garuk kepala.

"Gampang bro. Tapi pertama-tama, kita harus ke zona aman dulu. Lalu kita masuk ke pintunya yang ada di kordinat 10.10," ujar Harry seperti guru kepada muridnya.

"Lalu bro, setelah masuk apa yang harus kita lakukan?" tanya Michael bingung.

"Ohya sebelum masuk, kita harus menentukan pohon apa yang mau kita buat. Ada pohon kecil, sedang, dan besar," kata Harry.

"Kalo gitu kita yang kecil aja dulu," kata Michael sambil bersiap-siap jalan.

"Ok baiklah. Setelah kita masuk ini, kita masuk dulu ke lantai pertama."

"Di sini apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus mencari suara lantai yang berbeda. Kemudian, kita tekan e di sana untuk menggali sebuah tembaga."

"Oh jadi itu tambang tembaga ya?"

"Iya bro. Ini kita perlukan untuk membuat lampu natal. Kita butuh seratus tembaga."

"Gak masalah bro. Habis itu?"

"Habis itu kita naik ke lantai dua. Nah di sana itu tempat pepohonan yang menyediakan pohon untuk membuat kertas."

"Pohon untuk membuat kertas? Bagaimana cara buatnya?"

"Kita harus punya dulu kapak yang dibeli di toko serba ada di zona aman. Harganya sekitar dua ratus lima puluh juta koin. Tapi dijamin itu gak akan rusak."

"Nah dengan kapak itu kita bisa tebang dan jadi kertas?"

"Yep betul bro. Tapi sebelumnya kita tekan tab berkali-kali dulu sampai ketemu kapaknya. Lalu jika sudah ketemu kapaknya, tekan backspace. Apabila ada suara lain saat kita menebang pohon, itu tandanya kita udah berhasil bikin satu kertas."

"Wow! Luar biasa sekali bro. Nah omong-omong, kita butuh berapa kertas?"

"Kita butuh lima puluh kertas aja bro."

"Asiap bro. Nah setelah dari pepohonan itu kita ke mana lagi bro?"

"Kita naik ke lantai tiga. Nah di sana tempat pertenakan domba bro. Kita harus mencukur bulunya sambil dia jalan bolak-balik. Kita harus fokus agar dapat keambil. Karena untuk satu wol aja, kita harus butuh beberapa ekor."

"Oh paham. Jadi pas kita mencukur bulu domba akan terdengar suara gunting kan? Lalu jika kita berhasil memotong beberapa ekor domba, akan ada bunyi lain bahwa kita berhasil bikin wolnya kan?"

"Yep betul sekali bro. Makanya, jadi harus fokus dengar sambil tekan e untuk mencukurnya."

"Ok bro. Ohya, butuh berapa wol untuk misi pohon kecil?"

"Kita butuh lima puluh wol aja bro."

"Oky bro. Nah selanjutnya, aku lihat masih ada satu lantai lagi bro?"

"Yes bro. Lantai terakhir itu berisikan mesin pembuat plastik. Di situ kit.."

"Di situ kita mendengarkan suara kayak piano kan bro? Atau bell atau apalah itu yang penting ada bunyinya gitu kan? Sorry aku potong nih."

"Kok tau bro? Ya betul. Kita harus dengarkan suara bunyinya itu. Pas bunyi, cepat-cepat kita harus tekan e dan akan terdengar suara plastik yang artinya kita berhasil membuat plastik."

"Ada deh. Nah terus, butuh berapa plastik nih? Seratus ya?"

"Yes kita butuh seratus."

"Aha! Nah aku lihat kan udah sampai lantai empat aja. Terus gimana sekarang?"

"Nah jika kita sudah punya seratus tembaga, lima puluh kertas, lima puluh wol, dan seratus plastik, dari mesin pembuat plastik itu ada stok. Nah di situ tempat kumpulnya material kita. Kita cukup tekan enter di sana dan akan ditampilkan daftar material berserta jumlahnya. Di situ kita tekan enter di salah satu material yang mau kita ambil. Tentukan jumlahnya berapa dan akan masuk ke inventoris kita."

"Tapi kita bisa saling tukar-menukar material bro melalui perintah /n? Itu kalo misalnya kita kelebihan ngambil material atau kurang."

"Sayangnya tidak bisa bro. Jadi dipastikan kordinasi dulu agar tidak salah mengambil material yang dibutuhkan. Jika kamu tidak sendiri, berbicara dengan teman-teman itu menggunakan perintah /w lalu spasi dan tulis pesannya."

"Ok deh siap. Nah anggap nih aku udah punya semua materialnya di inventoris, bagaimana cara rakitnya?"

"Caranya mudah bro. Untuk membuat satu bunga mawar merah, kita butuh lima kertas dan tiga wol. Kita harus menekan shift spasi dulu di kertas lalu menekan spasi di wolnya. Maka secara otomatis lima kertas dan tiga wol akan membentuk satu bunga mawar merah."

"Mantaaaaap. Terus untuk merakit jadi bintang?"

"Bahan yang dibutuhkan lima plastik dan dua wol aja bro. Caranya hampir sama. Namun yang di tekan shift spasi itu di plastiknya dulu baru spasi di wolnya. Jadi deh satu buah bintang dengan otomatis mengambil lima plastik dan dua wol."

"Nah untuk lampu natalnya?"

"Secara otomatis kan yang tersisa hanya ada beberapa plastik dan seratus tembaga. Kita ambil tembaga dulu dengan menekan shift spasi di sana terus spasi di plastik. Seperti tadi tapi dengan material yang berbeda, sebuah lampu natal berhasil terbentuk dari eloknya sepuluh tembaga dan lima plastik yang tersisa."

"Wah asik dikit lagi nih. Nah terus cara hiasnya?"

"Cara hiasnya, kita jalan ke kanan dikit dari tempat stok tadi, nanti ada meja pohon natalnya. Di situ kita tekan enter aja. Lalu kita tekan angka satu untuk mengetahui berapa banyak yang sudah kita dekorasi di pohon. Angka dua untuk menaruh bintang, angka tiga untuk memasang lampu natal, dan empat untuk menaruh bunga mawar merahnya."

"Nah untuk pohon kecil, kita berapa barang yang dibutuhkan dari masing-masing tiga itu bro?"

"Kita butuh sepuluh bunga mawar merah, sepuluh bintang, dan sepuluh lampu natal. Untuk pohon lainnya, itu tinggal ditambah aja. Pohon sedang butuh dua puluh dari masing-masing tiga barang itu dan yang besar membutuhkan lima puluh."

"Yay aku suka paham broooo! Aku pengen segera buat. Tapi hehehehehehe ada hadiahnya gak nih kalo kita berhasil mendekornya?"

"Ada dong bro. Hadiahnya nanti akan dikasih beberapa kotak sinterklas dan kalau ambil yang sedang atau besar ada bonus beberapa hadiah menarik lagi."

"Wihi jadi pengen langsung buat nih!"

"Ets sebelum buat, pastikan persentase lelahmu sudah kamu urus dulu atau untuk berjaga-jaga, siapkan aja ramuan vitalitas yang sewaktu-waktu bisa kamu minum. Soalnya, kalau kamu pulang saat masih di petanya, kamu dianggap gugur dan harus mengulang lagi dari awal."

"Wah iya deh ngerti. Jadi kudu diperhatikan banget sebelum kita mulai. Tapi modenya boleh pasif kan?"

"Iya bro disarankan mode pasif aja supaya gak gampang mati kena nuklir atau meteor kalau lagi asik mengumpulkan material."

"Siiiip daaaaah. Yuk kita buat sekarang!"

"Ohya tambahan terakhir. Kita gak perlu harus ke lantai pertama dulu untuk ngambil tembaga. Kita juga bisa mulai dari lantai mana aja yang kamu mau. Misalnya pengen ngurus domba dulu boleh, atau mau bikin plastik terus kertas silahkan aja."

"Paham deeeeh. Daaaah ah pusing kalo dijelasin terus. Yuk kita bikin hiasannya!"

"Ayok! Kamu cukur domba ya!"

"Ah kamu broooo. Maunya yang enak-enak aja. Kalau gitu kamu ngurus tembaga dulu ya!"

"Iya deh biar adil."

Baca Selengkapnya